MUSLIMAH PEREMPUAN PEMBARU KEAGAMAN REFORMIS

Salah satu tuntunan agama yang mendasar adalah keharusan menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin, suku, ras, bangsa bahkan agama. Karena itu setiap agama mempunyai dua aspek ajaran yaitu: ajaran tentang ketuhanan dan kemanusiaan. Islam misalnya memiliki ajaran yang menekankan pada dua aspek yakni aspek vertical dan horizontal. Aspek vertical berarti Islam mengajarkan hubungan antara manusia dengan manusia sedang aspek horisontal mengajarkn manusia dengan Tuhannya.

Kehadiran Islam dengan nilai-nilai keadilan yang dibawanya telah membuat kaum mustadh’afin memiliki secercah harapan. Para budak yang dipandang sebagai setengah manusia mendapat tempat yang lebih tinggi dari pada orang merdeka yang musrik. Diantara kelompok masyarakat mustadh’afin yang paling beruntung dengan kehadiran Islam adalah perempuan. Karena dalam Islam kaum permpuan dilayakkan manusia sejajar dengan laki-laki, praktik pembunuhan bayi perempuan yang dilakukan pada zaman jahiliyah dibasmi total, lebih dari sekedar hidup bayi perempuan juga disambut kehadiranya dengan Akiqah. Walaupun dalam hadist nabi akiqah laki-laki dua ekor kambing dan permpuan satu ekor kambing tapi hal itu tidaklah berarti bahwa wanita nilainya setengah dari laki-laki.

Dewasa ini agama mendapat ujian baru karena sering dituduh sebagai sumber dari masalah berbagai bentuk pelanggengan ketidak adilan dimasyarakat, termasuk ketidak adilan dalam pola relasi antara laki-laki dengan perempuan. Diantara pemahaman agama yang bias gender dan kemudian membawa implikasi kepada ketimpangan gender adalah; pertama, pemahaman tentang asal-usul penciptaan manusia. Kedua, pemahaman tentang kejatuhan Adam a.s jatuh dari surga akibat godaan Hawa yang terlebih dahulu terpengaruh oleh bisikan setan. Ketiga, pemahaman tentang kepemimpinan perempuan.

Jika terdapat pemahaman yang tidak sejalan dengan tujuan utama agama Islam, makapemahaman itu perlu dikaji ulang agar sejalan dengan cita-cita keadilan Islam. Islam diyakini oleh pemeluknya sebagai agama yang rahmatan lil –alamin salah satu bentuknya adalah pengakuan terhadap keutuhan kemanusiaan permpuan yang setara dengan laki-laki. Perempuan dipandang ulama-ulama fiqih cenderung dipersepsikan sebagai obyek, yakni obyek seksual. Di satu sisi perempuan diberi lebel mahluk inferior, lemah, dan mudah diperdaya untuk meninggalkan agamnya. Hal ini membawa kepada larangan perempuan muslim menikah dengan laki-laki non muslim.

Namun disisi lain mereka juga di beri sistikma sebagai sumber finah yang mencelakakan. Implilkasinya, laki-laki muslimpun dilarang menikahi perempuan non muslim sekalipun ahli kitab kerena dikahawatirkan akan menggiring mereka keluar Islam. Pemikiran dan sikap demikian tidak sehat, bahkan dapat dikatakan culas. Lebih parah lagi, pemikiran seperti ini tidak hanya di dalamislam tapi juga di dalam agama lain.

Sejumlah kajian mengenai perempuan dan hukum menyimpulkan bahwa posisi perempuan di Indonesia saat ini saat ini masih sangat lemah dan terdiskriminasikan. Artinya, ketimpangan gender dalam relasi laki-laki dan perempuan masih sering terjadi. Ketimpangan gender menganalisis berbagai faktor yang ikut aktif melestarikannya, termasuk faktor hukum yang kerap kali mendapat justifikasi agama. Ada dua bentuk keberadaan hukum Islam di Indonesia yakni: hukum normatif yang di implikasikan secara sadar oleh umat Islam, dan hukum formal yang dilegismasikan sebagai hukum positif bagi umat Islam. Substansi fatwa MUI tentang prosedur perkawinan menegaskan agar dalam masalah perkawinan, umat Islam harus mengacu kepada UU perkawinan dan peraturan lainya yang dibuat pemerintah. Jadi jelas sekali fatwa itu dimaksudkan untuk melegistimasi dan meneguhkan posisi UU sebagai pedoman pelaksanaan perkawinan di Indonesia khususnya bagi Islam. Ajaran Islam yang berbicara soal perempuan pada umumnya telah dibaca dengan pemahaman yang mentransdekan pemahaman teks kitab suci sehingga terlepas dari konteks sejarah dan antropologinya.

Jika kita menyimak pandanan dan pendapat dalam kitab-kitab klasik, terutama yang berkaitan dengan relasi laki-laki dan perempuan akan ditemukan sejumlah penafsiran yang keliru. seperti penafsiran QS An-Nisa’ ayat 32 dan 34, pada ayat 32 kandungan maknanya sudah cukup menggambarkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, akan tetapi dalam kitab kuning ayat itu ditafsirkan sebagai berikut “Para laki-laki itu memperoleh pahala dari amal jihad yang dilakukan, sedangkan para wanita juga mempunyai hak memperoleh pahala dari apa yang diperbuatnya yaitu menjaga farjinya serta taat kepada Allah dan suaminya.” Coba perhatikan penafsiran ulama terhadap ayat tersebut menempatkan perempuan sebagai objek seksual.  Selanjutnya tentang ayat 34 kebanyakan ulama menafsirkan bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan. Hal itu membawa kepada peemahaman bahwa suami boleh memukul istrinya. Memukul istri, merupakan hak suami Karena suami mempunyai kedudukan lebih tinggi sebagai pemimpin dan pemberi nafkah bagi istrinya. Dalam kitab disebutkan, “Para perempuan sebaiknya mengetahui kalau dirinya itu seperti budak sahaya yang dimiliki suami dan tawanan yang lemah tak berdaya dalam kekuasaan suami. Maka perempuan tidak boleh membelanjakan harta suami untuk kepentingan apa saja kecuali atas izin suami.”

Dalam realitas sehari-hari, pandangan misoginis (yang membenci perempuan) seperti inilah pandangan yang justru banyak disosialisasikan, baik oleh para mubalig maupun mubalig. Konsekuensinya, mengetengahkan pendangan yang lebih adil dan setara menjadi sangat sulit karena dianggap menentang pendapat mainstream yang dipandang sudah mapan dimasyarakat.

%d blogger menyukai ini: