Tradisi Kewarisan Dikalangan Habib Al-Musawwa

Ulin Nuha/2103210/Al Ahwal Al Syakhsiyah

ABSTRAK

Dalam hal pernikahan, kita mengenal dengan adanya prinsip kafa’ah yaitu kesetaraan dalam perjodohan. Baik mengenai agama, nasab, status sosial dan pangkat, maupun kekayaan. Kafa’ah dalam kualitas agama dipandang sangat penting agar usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang islami dapat terwujud. Dalam tradisi komunitas Arab kafa’ah dalam pernikahan antara Sayyid dan Syarifah sangat diperhatikan karena untuk menjaga regenerasi ahlul bait (keturunan) mereka yang bernasab pada Rasulullah SAW. Implikasinya adalah jika ada seorang Syarifah yang menikah dengan non Sayyid maka Syarifah tersebut hak warisnya dianggap gugur

Dalam penelitian ini tidak dibahas kafa’ah antar Sayyid secara keseluruhan, akan tetapi hanya terfokus dengan persoalan setelah adanya pelanggaran terhadap tradisi tersebut yakni: Pertama, Bagaimana hak waris bagi Syarifah yang menikah dengan non Sayyid pada kalangan habib al-Musawwa Desa Demaan Kecamatan Kota Kabupaten Kudus. Kedua, Bagaimana pergeseran tradisi kewarisan di kalangan habib al-musawwa di Desa Demaan Kecamatan Kota Kabupaten Kudus tentang tidak terputusnya warisan dikarenakan pernikahan Syarifah dengan non Sayyid.

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah field research, dikarenakan penelitian ini berhubungan dengan permasalahan interelasi antara hukum dan sebuah komunitas maka dapat juga disebut dengan penelitian hukum sosiologis (social legal research) yang difokuskan pada tradisi yang terjadi pada komunitas Arab tersebut, adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah interviu dan pengumpulan data, yang kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif analisis.

Didalam pasal 173 KHI dijelaskan, bahwa Mawani’ al-irs ada dua, yaitu; pembunuhan dan berlainan agama. Kemudian penulis analisa menggunakan metode deskriptif analisis sehingga dapat diketahui adanya pelanggaran hukum yang terjadi pada tradisi tersebut, yang mana pada dasarnya status Syarifah tersebut masih memiliki hak waris. Jadi dikalangan habib al-Musawwa hak waris untuk Syarifah yang menikah dengan non Sayyid tidak terputus. Pergeseran tradisi tersebut dikarenakan Interaksi sosial, Akulturasi budaya, dan pernikahan Syarifah dengan non Sayyid tidak melanggar syari’at Islam.

%d blogger menyukai ini: